love it

love it
together we can ! yes!

Kamis, November 13, 2014

Tips merawat carrier

Carrier adalah barang yang seharusnya di bawa bagi para penjelajah alam. Barang penting yang tidak bisa dikesampingkan. Itu juga karena masalah harga yang bisa di kategorikan tidak murah. 









Carrier sangat berguna untuk menaruh perlengkapan kita selama menjelajah alam, berikut adalah tips cara merawat carrier supaya awet dan gak gampang rusak. 


1. Kosongkan Tas 
Hal pertama yang harus dilakukan saat akan merawat tas adalah mengosongkan Carrier. cari benda atau makanan yang masih tertinggal di dalamnya. hal ini berfungsi untuk menghindari jamur. jadi, setelah dipakai, jangan lupa untuk mengeluarkan semua barang atau benda baik itu kecil maupun besar (bendanya). 

2. Cuci Carrier yang telah digunakan
Setelah dipakai, Carrier pasti kotor terkena debu atau pengotor lainnya. Tanpa disadari, kotoran yang dibiarkan menempel bisa merusak tas terutama bahannya. Oleh karena itu, sangat penting mencuci Carrier setelah digunakan. Selain itu, dengan mencuci, Carrier kamu juga bisa tampak lebih bersih seperti baru kembali. 

3. Beri Kapur barus
kapur barus berguna untuk menghindarkan Carrier dari jamur. karena, musuh utama Carrier, terutama setelah dipakai adalah JAMUR! Jamur bisa datang bila udara di dalam tas lembab. Jamur yang dibiarkan berada di tas tentu bisa merusak bahan carrier. 

4. Bungkus Carrier dengan Plastik
agak aneh memang jika carrier yang biasa kita pakai lalu di letakkan dalam plastik. tapi hal ini PENTING ! karena Setelah dicuci dan diberi kapur barus, simpan tas dengan membungkusnya menggunakan plastik. Pastikan plastik menutup seluruh permukaan tas, dan jangan biarkan ada bagian yang terbuka, yang memungkinkan debu masuk. Jangan biarkan juga tali yang ada di Carrier Anda menjuntai kemana - mana, karena akan sulit dirapihkan kembali nantinya.

5. Pastikan Carrier tidak tertindih barang berat !
Kenapa carrier tidak boleh tertindih benda berat? karena ini akan merusak Carrier itu sendiri. selain bentuknya akan berubah, carrier yang tertindih juga cenderung akan rusak bagian dalamnya seperti besi penyangga atau bagian pada punggung carrier. 

So, ada baiknya kita merawat apa yang kita punya! 

happy Hiking !    

galeri perjalanan :)

This! 
Our Vacation. Our Love and Our Adventures !


Our Mountain :)




Our Blue !






















Menuju Teluk Kiluan





















Semak Daun Island, Kep.Seribu, Jakarta
ME !
BALI !




city tour






Pendakian ke Negeri Dongeng, Gunung Bromo


Tentang sebuah mimpi,
Tentang dingi yag berhembus dari sela-sela tenda,
Tentang hujan yang mendadak turun dikala tidur mulai menjelma,
Tentang cinta kepada awan di atas ketinggian,
Tentang cinta kita,
Tentang Gunung,
Dan ini,





Angin gunung yang dingin sore itu. Begitu tak biasa bagiku.
Luka bekas jatuh dari motor pun sudah tak lagi terasa. Aku tau ini tentang sebuah keinginan yang besar. Sejak lama. Dan tak aku duga semua ini aku jalani saat bermula denganmu. Aku juga tak tau, kenapa Tuhan mengirim kamu untuk menemaniku mendaki puncak indah di Indonesia. Memang tidak banyak, hanya beberapa dari banyaknya gunung cantik di Nusantara ini. Hanya saja, aku bahagia.

Banyak pelajaran yang aku dapat saat mendaki, dari banyaknya kenalan yang aku dapatkan, sampai rasa rindu saat kembali ke rumah. Selain itu, banyak pula kekhawatiran orang tua. Mamah terutama. Saat aku mulai bilang aku naik gunung. Dia agaknya sedikit marah. Tapi lama-lama semua itu bisa dimengerti.

Mulanya, aku juga tak mengetahui banyak hal tentang dirimu. Aku juga tak tau jika kamu juga suka akan berpetualang di Alam. Aku juga sebelumnya belum kenal siapa aku, aku yang cinta sekali dengan dingin di puncak gunung, aku yang suka sekali menggigil di malam hari, dan aku yang senang sekali menyapa sesama pendaki saat berada di gunung. Aku juga baru kenal siapa aku, saat bersamamu mendaki Gunung.

Jika dilihat dari daftar mimpiku yang aku tulis beberapa tahun lalu, aku hanya menuliskan satu Gunung itupun bukan gunung untuk didaki, hanya gunung wisata. Gunung Bromo namanya. Letaknya di Jawa Timur, Indonesia. Aku mulai menyukainya saat mulai aku lihat gambar gunung Bromo yang eksotis di salah satu kalender di rumah. Hati semakin gembira dan rasa ingin kesana semakin tinggi saat aku lihat acara di televisi yang mendeskripsikan tentang keindahan sebuah Gunung Bromo. Aku ingin kesana, bahkan harus kesana.

Dua puluh dua Desember dua ribu dua belas.

Satu bulan setelah kita resmi jadian. Satu bulan setelah kita resmi menyatakan kasih sayang, saling suka. Dan satu bulan setelah kita tak lagi menjadi teman. Ajakan itu muncul dari salah satu kami, ditambah lagi seorang teman yang memang ingin jalan-jalan.

Melalui perbincangan panjang, akhirnya kita memutuskan untuk berlibur ke Gunung Bromo, Jawa Timur. Hatiku senang, gembira bukan main kala sebuah mimpi lama akan menjadi nyata dalam waktu dekat. Ya, mimpi yang sederhana tak muluk dan tak menghabiskan biaya yang banyak pula. Bromo, Aku datang.

Lanang Teguh Samudera. Dia adalah Travelmate ku, sekaligus kekasihku.

Satu lagi adalah Urfan Fifaldi, dia adalah teman sekelasku.
Dan, pada bulan Januari di tahun 2013 kami mengunjungimu, Bromo ku tercinta. Gunung gagah yang selalu membuatku terpikat bahkan sampai sekarang . inilah kisahmu.

Gunung Bromo diJanuari 2013

Gunung Bromo dalam keadaan cerah


Kereta Api jurusan Matarmaja segera berangkat pukul 2 siang. Badan kami bertiga masih pegal karna sebelumnya selama 3 hari melakukan perjalana ke Yogyakarta. Menemani teman kami yang ingin berkeliling kota Gudeg tersebut. Wajar saja mereka minta ditemani oleh kami bertiga karna kami hampir sudah mengetahui semua area wisata di Kota yang dikenal dengan kota pelajar tersebut.
Akhirnya kereta berangkat. Kurang lebih pukul 2.15 kereta mulai beranjak dari Stasiun Kereta Api Senen, Jakarta. Here We Go!
Kami melewati waktu di kereta api kurang lebih 20 jam. Waktu yang lama untuk duduk di kereta Ekonomi.
Hal yang paling menarik dan sangat disuka saat berada di Kereta api adalah saat para pedagang menjajakan dagangan mereka. Semua hampir tersedia di kereta api. Seperti layaknya pasar yang berpindah tempat ke gerbong kereta api. Agak lucu bagiku.  Barang dagangan yang dijual beraneka macam, mulai dari makanan sampai binatang peliharaan. Saat itu aku pernah melihat seorang pria paruh baya, hampir kakek-kakek menjual sejenis Tokek tapi badannya agak besar. Aku lupa dia jual dengan harga berapa, hal itu unik sekali. Sebuah pemandanagan yang tak akan ditemui di transportasi manapun di Bis, maupun di Pesawat.
Tapi sekarang, mungkin hal ini sudah tidak akan ditemui lagi, kebijakan pemerintah yang melarang semua pedagang berdagang di dalam kereta api menyebabkan banyaknya orang-orang yang kehilangan pekerjaannya.
Sekitar pukul 10 pagi kereta kami sampai di Stasiun Kota Baru, Malang. 
Lanang langsung mengambil ponsel dan menghubungi temannya. Teman yang baru saja dikenal dari sebuah komunitas pecinta jalan-jalan. Rupanya kami harus menunggu agak lama teman baru kami.
Sembari menunggu, kami berjalan-jalan sebentar. Karna perut kami lapar, akhirnya kami memutuskan untuk membeli makanan soto madiun.
Usai makan, ternyata teman baru kami belum juga sampai. Kami berjalan-jalan sebentar disekitar stasiun. Sampai akhirnya dia muncul. Perkenalan pun dimulai.
“Dav”
“Vita”
“Lanang”
“Urfan”
kami bertigpun berkenalan.
“yaudah, kita motoran aja yah ke Bromonya” Ujar Mas Dav
“oke” Jawab Urfan.
“Udah dapet penyewaan motor kan?” Tanya mas Dav
“Udah. Di jalan ini nih mas, tempatnya tau  gak?” jawab lanang sambil menunjukkan alamat rental motor.
“oh, disini.. tau-tau ini gak jauh kok dari sini. Yaudah siapa yang mau ikut aku buat ambil motornya?” Tanya mas Dav sembari meletakkan ransel.
“aku mas!” jawab semangat Urfan
“yaudah, kalian berdua disini dulu yaa. Aku nitip tas aku. Oiyah itu ada kamera kalo mau liat-liat foto aku pas naik gunung juga boleh.” Ucap mas Dav sambil menstarter Thunder nya.
Akhirnya mereka berdua pergi menuju tempat rental motor. Aku sesekali melihat pemandangan sekitar. Tiba-tiba lanang menunjukkan sesuatu padaku, “nih vit liat deh!”
“wah. Bagus banget yaa” kagum saat aku melihat hasil poto yang ada di kamera mas Dav. Tampak mas Dav tengan duduk di dengan backround awan yang indah. Duga ku itu berada di salah satu gunung di Indonesia.
Semakin banyak gambar yang aku lihat semakin kagum aku pada keindahan alam Indonesia, terutama Gunung.
Tapi, ketika itu aku belum ada kemuan untuk menjadikan mendaki sebagai hobi. Masih terlalu dini aku menjadikan hidupku sebagai orang yang suka mendaki Gunung.
Setelah beberapa menit, akhirnya Urfan dan Mas Dav kembali. Urfan mengendarai motor matik.
“loh, kok matik?” Tanya Lanang
“adanya cuma ini.” Sahut Urfan.
“Yaudah gapapa”
akhirnya setelah packing ulang, bersih-bersih badan. Makan siang, kami berempat berpacu dengan motor.
Urfan berbonceng dengan mas Dav bersama Thunder nya. Sedangkan aku dengan matik dengan supir Lanang.
Jalan yang kami tempuh cukup jauh. Melewati keramaian kota. Dan tiba-tiba hal yang tak diduga datang. Hujan turun ditengah perjalanan kami. Hujan yang deras, dengan massa air yang cukup besar. Instan semua panik dan motorpun menepi.
Cukup lama kami menepi, akhirnya kami memutuskan untuk kembali melaju. Dengan menggunakan jas hujan kami menerjang hujan yang lumayan deas. Selang beberapa waktu dalam jarak yang cukup jauh, hujan mereda. Bahkan Nampak tidak pernah tampak satu tetes pun air yang turun di tempat yg sekarang kami tempati.
Usai melipat jas hujan dan ponco, kam melanjutkan perjalanan.
Jalur yang kami lalui adalah jalur wonokriti.
“mas nanti ini tembusnya dimana?” Tanya salah seorang di antara kami.
“ndak tau. Aku juga belum pernah lewat sini. Hahahaha” jawab Mas Dav dengan santai.
Jalan yang kami lalui mulanya cukup bagus. Halus dan tidak berlubang. Namun hal itu tidak bertahan lama, sampai pada sebuah desa yang aku sendiri lupa namanya. Jalan berubah menjadi penuh lubang, sesekali menanjak dan saat itu hujan deras. Lengkap sudah perjalanan kami.
Banyak doa yang aku panjatkan saat itu, saat jalanan menaik dengan terjal yang begitu parah, ditambah hujan yang cukup deras sehingga membuat badanku sedikit menggigil.
Sampai kami menemukan sebuah Masjid, dan kami memutuskan untuk istirahat sejenak. Setelah beberapa lama, akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Hujan yang turun lumayan sudah mereda, hanya sedikit gerimis sore itu.
Baru saja melanjutkan perjalanan, jalanan lumayan bersahabat. Tiba-tiba motor kami harus dihadapkan dengan sebuah tanjakan tajam yang curam. Kemiringan tanjakan sekitar 70 derajat. Dan itu mengharuskan saya turun dari motor. Benar-benar petualangan.
Setelah melewati punggungan Gunung arjuna, akhirnya kami terbebas dari tanjakan terjal yang berbatu. Pemandangan berubah menjadi barisan rumah-rumah penginapan yang berwarna-warni. Di kanan kami berjajar ladang yang hijau dan di kiri kami tergambar kabut putih yang indah.
Jalanan yang sepi tidak menyurutkan kami untuk berhati-hati. Maklum saja, saat itu kabut sedang lumayan tebal. Ditambah lagi belokan yang lumayan tajam.
Motor kami ambruk, jatuh!
“aduh!” ujarku.
Lututku mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Tak berbeda keadaannya dengan lutut urfan.
Bibir ku juga berdarah akibat benturan dengan helm yang menyentuh aspal, begitu pula dengan lanang. Dan di antara kami berempat yang tidak ada luka hanya Mas Dav.
Motor kami jatuh tersungkur hitamnya aspal.
Untunglah tidak ada luka yang parah, hanya luka biasa.
Setelah membereskan motor yang terjatuh, helm yang rusak lumayan parah akhirnya kami melanjutkan perjalanan.
Tetapi sebelumnya kami beranjak, tiba-tiba ada warga yang menanyakan kami kenapa, bahkan mereka berniat menolong kami. Serta memberitahu kami untuk selalu berhati-hati.
“kemarin disini ada yang juklek loh mas” ujar ibu-ibu yang berniat menolong kami.  
“iyaa bu, kami pamit dulu yaa bu” ujar Urfan
“Yaudah ya mas, hati-hati di jalan”
“Ya bu”
motor-motor kami pun melaju.
Masih perih luka di bibir akibat bersentuhan langsung dengan aspal. Helm yang aku sudah rusak semakin jelek ketika jatuh.
Setelah beberapa lama, akhirnya kami sampai di penanjalan 1, view point Gunung Bromo.
Bahagia langsung menghinggapi pikiranku. Rasa kagum akan keindahan alam menyatu dengan dingin yang aku rasa.
Bagi Mas Dav yang memang domisili di Jawa Timur, foto dengan backround Bromo sudah biasa. Tapi bagi kami, ini hal yang tak boleh disia-siakan.
Malam sudah mulai menyapa, senja sudah datang. Kami berempat mendirikan sebuah tenda. Lanang sebenarnya membawa tenda, akan tetapi karna kapasitasnya yang kecil terpaksa tenda yang dibawa lanang dijadikan alas dan kemi mendirikan tenda yg dibawa oleh Mas Dav.
Tidak mudah mendirikan tenda dengan alas batako. Tenda yang seharusnya digunakan untuk alas tanah, terasa aneh ketika alas yang tersedia hanyalah batako. Dan terpaksa setiap ujung dari tenda yang kami dirikan harus kami pasak dengan batu yang lumayan berat. 
proses pendirian tenda di atas Paving

Malam datang, matahari yang malu sudah berubah cahayanya dengan terangnya bulan.
Beruntung, saat itu bulan sedang terang-terangnya. Bulatnya penuh, ditambah lagi disekeliling langit Nampak bintang-bintang yang indah dan banyak. Angin dingin pun mulai berbisik dari sela-sela pasir yang tersapu angin Bromo.
Agak sulit bagi kami menyalakan tungku api di tengah kerumunan angin. Setelah menelan waktu cukup lama, akhirnya Mas Dav menyerah dan meminta bantuan ke rumah tetangga. Setelah beberapa menit Mas Dav kembali dengan tungku dengan keadaan bara menyala.
“Nang, temenin pipis yuk” Tanya ku pada lanang.
“yaudah.”
Akhirnya aku beranikan diri keluar dari tenda setelah bermain kartu. 
keadaan setelah main kartu, BELEPOTAN !
Seketika tubuhku merasa sangat dingin. Sedikit menggigil. Bahkan air yang aku gunakanpun begitu dingin. Yah. Inilah suasana Gunung.
Usai buang air kecil, aku dan lanang memandang kagum pada keindahan Bromo.
Kami berdua melihat ke arah Gunung Bromo berada, sedikit tertutup kabut putih, di sertai dengan suara pasir yang menyerupai air terjun. Kami menyebutnya pasir berbisik.
Ketika aku sedang memandang kagum ke Arah Gunung Bromo, tiba-tiba tangan melingkar nya masuk dari sela-sela pinggangku. 
suasana menanti sunrise Bromo

Ya, lanang memelukku dari belakang. Pelukan pertama di tempat yang begitu Indah, Gunung Bromo. Aku suka moment ini.
“tuh, Bromo nya sudah ada. Beneran”
“Iyaa, gak nyangka bisa kesini”
malam itu saat udara sedang dingin-dinginnya.
Malam itu, saat angin berbisik menegur bahwa inilah Bromo.
Malam itu, saat bulan terang beradu keindahan dengan Bintang yang bertaburan.
Malam itu, Aku cinta kamu Gunung Bromoku.
Singkat cerita aku suka Bromo, suka dengan Sunrise yang saat itu aku lihat bersamanya. Dengan deburan angin yang indah menyapa pagi hari, dengan pelukan pertama dari seorang kekasih. Dengan keindahan yang dibalut dengan cinta. Iya, aku suka kmai. Gunung Bromo.

lebih banyak tentang cerita Bromo, 

narsis sebelum packing tenda
team Pendaki abal-abal
 


















 
puncak Bromo, Gunung pertama bagi kami.

Love



Festival Budaya Dieng


 Festival Budaya Dieng 

merupakan agenda wisata yang cukup dinanti oleh para wisatawan. Baik wisatawan local maupun mancanegara. Perpaduan antara keindahan alam dengan Keunikan Budaya menjadikan Dieng sebagai tempat wisata yang saying untuk kita lewatkan. Dieng Culture Festival di selenggarakan setiap tahun di dataran tinggi Dieng dengan menampilkan berbagai kesenian budaya masyarakat dataran tinggi Dieng, dan sebagai puncak acara dalam “dieng Culture Festival” adalah Upacara Ruwatan Pemotongan Rambut Gimbal anak-anak di sekitar dataran tinggi dieng.



(1) #FestivalBudayaDieng adalah acara Budaya atau semacam pesta rakyat yang biasa digelar Masyarakat Dataran Tinggi Dieng setiap tahunnya #ProudOfIndonesia

(2) #FestivalBudayaDieng merupakan acara budaya yang sudah terkenal, tak hanya dikalangan masyarakat lokal namun kegiatan ini sudah famous sampai mancanegara #ProudOfIndonesia

(3) dalam #FestivalBudayaDieng terdapat serangkaian acara yang sangat menarik, dari mulai kirab, pesta lampion sampai dengan pemotongan rambut anak gimbal. Ada yang pernah ikut? #ProudOfIndonesia



(4) pada #FestivalBudayaDieng, acara pertama diawali dengan arak-arakan keliling kampung yg dilakukan oleh “anak-anak gimbal” dengan menaiki kereta kuda/dokar #ProudOfIndonesia

(5) setelah “anak-anak gimbal” selesai di arak, acara selanjutnya pda #FestivalBudayaDieng adalah arak-arakan berjalan menuju komplek candi arjuna #ProudOfIndonesia



(6) di komplek candi arjuna tersebutlah kemudian “anak-anak gimbal” akan dipotong rambut gimbalnya oleh pemuka adat setempat. Acara ini sangat ditunggu pada #FestivalBudayaDieng #ProudOfIndonesia



(7) acara selanjutnya pada #FestivalBudayaDieng adalah pembuangan rambut secara dilarung yang sudah dipotong ke Telaga. #ProudOfIndonesia

(8) selain acara pemotongan rambut “anak gimbal” pda #FestivalBudayaDieng juga terdapat pesta lampion itu dilakukan malam hari sebelum acara puncak #ProudOfIndonesia








(9) pada pesta lampion dalam #FestivalBudayaDieng, biasanya wisatawan diperbolehkan untuk menyalakan lampion secara bersama-sama #ProudOfIndonesia























 
(10) selain itu pada #FestivalBudayaDieng juga dimeriahkan oleh pertunjukan tari tradisional khas Dieng, salah satuny adalah tarian Tari Lengger atau Tari Topeng #ProudOfIndonesia




(11) pagelaran wayang tradisional juga tak luput ditampilkan dalam #FestivalBudayaDieng pada malam hari yang sama #ProudOfIndonesia


Cerita dari Tanah Garut, Gunung Cikuray.


Cerita dari Tanah Garut, Gunung Cikuray.



Jumat telah tiba. Akhirnya kami bersiap untuk mempacking kembali barang-barang. Tak lupa untuk membeli perbekalan seperti telur, beras, sarden. Karna pendakian kali ini kami akan mengunjungi Gunung yang ada di Garut.
Saya bersama rekan lainnya yakni lanang, yogi, iben, rudi siap untuk melakukan pendakian.
Tujuan awal kami adalah Gunung Papandayan yang terletak di Garut juga. Akan tetapi waktu itu Gunung tersebut sedang ada “hajatan”. Mulanya kami tak percaya karna takut itu hanya issu belaka. Maka dengan nekat, jumat malam kami berangkat.

Jumat malam, sekiranya sehabis maghrib kami siap berangkat. Bermula dari kontrakan kecil rekan-rekan ku. Tak lupa untuk berdoa terlebih dahulu. Sebelum melangkahkan kaki pergi. Tujuan awal kami adalah Terminal Kampung Rambutan. Dari Depok, kami berangkat menggunakan Angkot. Terlihat tatapan dari para penumpang angkot. Mengira-ngira Gunung mana yang akan kita daki. Rudi kala itu juga sempat berbincang dengan salah satu penumpang lainnya yang menanyakan kami hendak kemana. Di sela perjalana juga kami menemui pengamen, dia masih sangat kecil menyanyikan sebuah lagu dewasa.  Tak lama kemudian, akhirnya kami sampai di Terminal Kampung Rambutan. Kami Turun dan mencari bis yang akan mengantarkan kami ke Terminal Guntur, Garut. Tak butuh waktu lama untuk mencari bis dengan tujuan Garut, karna di Terminal ini cukup banyak Bis yang menuju daerah itu.
“mau kemana ini kang” Tanya salah seorang kernet bis
“mau ke Gunung” jawab salah satu dari kami
“Tadinya mau ke Papandayan kang…” belum selesai bicara tiba-tiba percakapan kami dipotong.
“Papandayan lagi gak boleh di daki kang, bahaya kata orang sananya mahh..terus ini mau kemana atuh?”
“gak tau kang, mungkin ke Cikuray.”
“oh, sok atuh”
Carrier kami sudah dimasukkan ke dalam bagasi bis. Sambil menunggu bis berangkat kami membeli minum dan beberapa jajanan kecil.

Ini adalah Gunung ke tiga bagi saya dan Lanang. Dia adalah partner saya dalam mendaki, lebih dari mendaki mungkin. Dia adalah keindahan dari alam ini. Bukan berlebih, tapi semenjak dengan ia pulalah semua perjalanan ini terbentuk. Melakukan perjalanan dengannya seperti melakukan kehidupan yang lain. Saya selalu menikmati saat kami mendaki bersama. Saat kami menggendong carrier bersama. Dan saat tangannya membantuku berjalan kala lelah menyergapku tiba-tiba ketika mendaki. Itu indah sekali.

Perjalanan dari Jakarta menuju Garut, Jawa Barat kurang lebih 6 jam. Kami sampai disana sekitar pukul 4 pagi. Udara garut masih sangat dingin, bahkan sekalipun berada di terminal. Kami sempat mengisi perut dengan mie rebus dan segelas kopi sambil bertanya-tanya pada pedagang sekitar mengenai info menuju Gunung Cikuray. Karna benar saja di antara kami memang belum ada yang berkunjung ke Cikuray sebelumnya. Sedangkan info yang didapat dari internet masih minim.
Sempat ada beberapa supir angkot yang menawarkan tumpangan. Akan tetapi karna harga yang ditawarkan mahal, maka kami lebih memilih menggunakan angkutan umum tapi bukan carter. Sebelum bertemu dengan angkot, kami harus berjalan sebentar melewati pasar tradisional. Berjalan jam 4 pagi, masih gelap dan di tengah pasar pengalaman yang unik. Selain itu kami membawa tas yang ukurannya tidak normal. Hahaha
Tak lama kami sampai di tempat tem angkot. Kami naik angkot bersama dengan ibu-ibu yang baru saja membeli keperluan di pasar. Serta adapula pedagang yang sehabis belanja keprluan dagangnya di pasar. Alhamdulillah, naik angkot sekiranya bisa menekan biaya pengeluaran kami. Setidaknya kami hanya perlu mengeluarkan 3000 rupiah per orang sampai gapura sebelum akhirnya kami ganti kendaraan.

Sampai di gapura kami turun dari angkot. Kami bingung. Karna di tempat itu sepi. Jelas saja sepi, waktu masih jam 4 pagi. Akan tetapi tiba-tiba, ada abang ojek yang mendekati kami. Menanyakan mau kemana, dan sebagainya. Rudi sempat mengobrol banyak dengan abang ojek. Tak lama kemudian ia pergi, bersama abang ojek. Memanggil rekan ojek yang lain bersamaan dengan abang ojek. Tak lama rudi muncul dengan beberapa motor dan abang ojek lainnya.
Kami sampai di sebuah warung warga. Karna waktu sudah sampai pada subuh, sebelum melanjutkan ke pos pemancar kami melaksanakan solat terlebih dahulu.
Air di Garut ini sangat dingin. Bahkan untuk sekedar berwudhu saja airnya sangat dingin.
Seusai solat kami langsung berangkat lagi menggunakan ojek. Satu ojek membawa satu orang penumpang jadi kami berangkat dengan 5 motor.  Bermacam-macam jenis motor yang kami tumpangi, dari yang bebek sampai pada motor king yang khas dengan bunyi nyaringnya.
Jalan yang kami lalui tidak seperti jalan raya pada umumnya. Jalan yang kami lalui adalah jalanan berbatu dan nanjak. Kadang berbelok ke kanan, kadang turun. Saya saja sempat deg-deg an dengan motor yang saya tumpangi. Tak henti saya berdoa ketika itu. Setelah 15 menit cuaca agak berubah. Gunung Cikuray tampak terlihat dengan puncaknya yang damai.
Akhirnya kami sampai di pos pemancar. Pos pendaftaran sebelum memulai pendakian. Akan tetapi sebelum kami semua sampai dan mendaftar, ada kejadian lucu. Motor yang ditumpangi iben bermasalah. Maklum saja yang ditumpanginya adalah motor bebek. Kadang kalanya iben harus turun terlebih dahulu kala motor tersebut tak kuat nanjak. Tapi untungnya dia tak jalan terlalu jauh. Hanya beberapa meter saja.
“iyaa.. sorry lama tadi gue disuruh jalan dulu sama abangnya. Motornya gak kuat. Hahahha” kata nya menceritakan kepada kami.
Saat kami kesana Gunung Cikuray masih sangat sepi dari para pendaki. Tak seperti sekarang, sudah ramai. Kurang tau apa penyebab ramainya orang-orang mendaki. Dulu pas saya ke Cikuray masih asri dan damai.
Selesai sudah melakukan mendaftaran. Dan mendaftar di Gunung cikuray tidak dipungut biaya sepeserpun. Tidak ada pungli. Jika dibandingkan dengan sekarang berbeda jauh. Mungkin karna Gunung Cikuray semakin terkenal dikalangan para pendaki. Sehingga semakin banyak oknum yang ingin mengambil untung dari keberadaan Gunung Cikuray ini.

Sebelum memulai pendakian, tak lupa kami melakukan doa bersama. Memohon keselamatan selama perjalanan. Ini penting. Karna di alam kita tak akan tau apa yang akan terjadi. Kita hanya bergantung pada Tuhan yang Maha Esa. Selesai berdoa, kami melakukan tos bersama. Tujuan hanya satu, supaya kami semua semangat.
“Satu dua Tiga TOS”
“TOS” begitulah tos semangat regu kami. Regu yang kami namai, N2KPG (naik-naik ke puncak gunung).

Pendakianpun dimulai, dan disini cerita saya dan Lanang dimulai.

Pagi itu matahari sudah agak tinggi sekitar pukul 06.00 WIB kami melakukan pendakian. Masih sangat pagi, masih semangat dan segar. Saya mengenakan baju kaos biasa dengan luaran kotak-kotak hitam-putih dengan bawahan jeans, tapi gak ketat. Karna saya tau jika menggunakan jeans yang ketat itu akan menghambat jalan. Lanang juga demikian. Dia memakai dalaman kaos dengan luaran flannel putih abu-abu. Sebelum sampai di pos 1 rekan kami sempat mengambil gambar kami berdua.
Mendaki dengan Lanang adalah hal yang tidak pernah saya mimpikan. Bahkan dulu, sebelum perasaan kami menyatu pun saya tak pernah bermimpi akan ia. Akan tetapi entah mengapa setelah beberapa bulan dekat dengannya saya sempat memimpikannya beberapa kali. Sebelum akhirnya kami menjadi sepasang kekasih.
Akhrnya kami sampai di Pos 1. Kami istirahat sejenak, minum secukupnya. Kemudian kami melanjutkan ke Pos 2 untuk mengisi Air. Karna di Gunung Cikuray ini tidak ada persediaan air. Sedang mata air terakhir terdapat di Pos 2. Setelahnya tidak ada lagi sumber air.
Tak lama kamipun sampai di pos 2. Istirahat kembali dan minum secukupnya. Lanang mengambil air. Mengisi kembali botol-botol yang sudah kosong dan berkurang. Saya sibuk foto-foto alam sekitar.
Sayangnya, dalam pendakian kali ini tidak banyak pemandangan, hanya hutan dan pepohonan tinggi yang ada disekitar kami. Karna pemandangan yang sebenarnya terdapat di puncak gunung Cikuray.
Setelah melakukan pengisian air, kami melanjutkan pendakian. Yang jalan pertama kali adalah rudi, kemudian Yogi dan kemudian lagi saya lalu lanang yang terakhir adalah iben.
Jalanan yang kami lalui sangat sulit. Karena bukan lagi bebatuan ataupun tanah, melainkan akar-akar pohon. Sehingga kerap kali kami harus memanjat akar pohon tersebut. Susah memang, tapi entah mengapa saya sangat menyukainya kala itu. Bagi saya trek seperti ini sangat menyenangkan. Bisa membangkitkan semangat dan menjadikan pikiran tidak kosong, karna setiap akar yang dipanjat akan membuat otak berfikir untuk berada di atas.
Akhirnya kami sampai di Pos 2. Beberapa teman lelaki saya istirahat, duduk-duduk. Merasa letih. Tapi saya hanya berdiri sambil memposisikan diri seperti orang rukuk dalam solat. Setelah meminum beberapa teguk air, saya meminta ijin untuk melanjutkan perjalanan. Karna maklum saja sedari tadi saya yang paling lama dalam jalan. Entahlah, saya seringkali jika mendaki menjadi yang paling lama naik, akan tetapi jika turun saya seringkali paling cepat dan pertama.
Akhirnya semua memberikan ijin saya untuk melanjutkan perjalanan. Dengan syarat jangan meninggalkan kelompok terlalu jauh. Sambil menyalakan musik dari handpone, perjalanan saya lanjutkan kembali.
Jalanan yang saya lalui menuju pos 3 sama saja, akar pohon yang menjalar ke bawah. Kadang tak beraturan. Tapi sekali lagi saya senang menjalaninya. Tak terasa saya sudah jauh dari rombongan. Sudah tak terdengar lagi suara rekan yang memanggil nama saya. Yup! Semoga saja saya tidak nyasar.
Tak lama kemudian, akhirnya saya sampai di sebuah pohon yang bertuliskan “Pos 3”! akhirnya sampai juga di pos 3!
Saya duduk rebahan. Menanggalkan tas. Dan minum. Sambil menunggu rekan-rekan saya sampai, saya sempatkan diri untuk menutup mata. Tertidur untuk beberapa menit. Hahaha. Lelah sekali rasanya.
Tak lama kemudian rudi datang.
“ih, vita jauh banget. Kan tadi saya panggil-panggil. Gak denger yaa?saya kira hilang” kata rudi
“gak denger kang. Tadi denger sii yang pertamanya doang tapi setelahnya udah gak denger lagi” jawab saya.
Tak lama kemudian rekan-rekan yang lain berdatangan. Menanggalkan tas, istirahat. Akhirnya lanang pun sampai di Pos 3.
“vita tadi kok cepet banget sii!” kata lanang
“gak nang, tadi saya perasaan jalannya biasa aja.” Jawab saya meyakinkan.
Akhirnya saya dan rekan memutuskan untuk beristirahat sejenak. Meminum beberapa teguk air dan memakan makanan ringan.
Kami beristirahat di pos 3 cukup lama, dikarenakan jarak tempuh dari pos 2 ke pos 3 sangat jauh. Terlebih trek yang kami lalui adalah trek akar.
Setelah beristirahat cukup lama, akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan. Dan kali ini saya tidak lagi berjalan sendiri ataupun duluan. Karena khawatir jika saya berjalan duluan nantinya akan sulit dicapai atau berjalan terlalu cepat.
Pos 4 telah kami lewati, seperti pos-pos sebelumnya kami berhenti sejenak sambil meminum beberapa teguk air dan memakan makanan ringan. Tak lupa untuk bersenda gurau supaya semangat tidak luntur meski lelah.
Ada peristiwa yang membuat kami harus berhenti di antara pos 4 ke pos 5. Yaitu kami mendadak berhenti dikarenakan ada salah stu rekan kami yang ingin buang air besar. Lanang mendadak kebelet dan ingin buang air besar. Karena kondisi tim juga sudah agak kelelahan, maka kami putuskan untuk istirahat sambil menunggu Lanang buang air besar.
Cukup lama kami menunggu Lanang, kira-kira 15 menit. Akhirnya, Lanang kembali dengan senyum girang kelegaan karena habis membuang hajat. Setelah mempacking, akhirnya kami melanjutkan perjalanan.
Akhirnya sampai di pos 5. Kami istirahat kembali. Memang, setiap kali pos kami selalu berhenti. Dalam pendakian tersebut tidak hanya kami rombongan yang mendaki Gunung Cikuray. Terdapat rombongan lain yang kami temui. Kami sempat bertemu dengan rombongan anak-anak sekolahan di pos 2. Akan tetapi, karena anak sekolahan itu terlalu cepat, hasilnya kami tim keong masih di pos bawah.
Sebenarnya saya juga janjian dengan rombongan dari Bandung. Akan tetapi, karena saat kami sampai di pos pemancar kami tidak menemuinya, maka kami putuskan untuk memulai pendakian duluan.
Mulanya, saya kira adanya pos adalah sampai pos 6. Sudah girang hati saya ketika mendapati pos 5 dan sebentar lagi akan sampai puncak. Akan tetapi kegirangan saya harus terkubur jauh ketika di atas pohon yang lumayan tua dan rindang itu bertuliskan POS 6 PUNCAK BAYANGAN.
“APA???? ADA PUNCAK BAYANGAN?” kesal saya dalam batin.
Akhirnya karena kesal puncak tak kunjung dicapai, kami beserta tim memutuskan untuk istirahat lagi sambil ngobrol dengan pendaki lainnya yang sedang istirahat juga.
Menurut penuturan para pendaki, memang di Gunung Cikuray ini ada pos bayangan. Terkadang, pos bayangan ini juga digunakan untuk mendirikan tenda dikala pendaki gunung kelelahan.
Setelah cukup lama kami beristirahat, akhirnya kami melanjutkan perjalanan.
“coba liat dulu treknya” kata lanang mencoba mengecek trek yang akan kami lalui.
“ah, landau. Yuk ah!” kata lanang dengan senang.
Akhirnya kami melanjutkan perjalanan.
Kami kira, puncak bayangan menuju puncak jaraknya tidak jauh.. TERNYATA. Sudah setengah jam kami berjalan tapi masih belum juga menggapai puncak.
Ada cerita di tengah-tengah perjalanan menuju puncak.
“yaudah vita duluan sana. Nanti aku nyusul” kata lanang.
“Ih, ntar dulu lanang,, saya capek. Yaudah kalo lanang mau duluan yaa gapapa” kata saya.
Lalu kami jalan lagi.
Kami bertengkar kecil ketika saya kesal karena lanang selalu menyurus saya duluan, padahal saya sedang kelelahan.
Akhirnya, karena kelelahan saya memutuskan untuk berjalan paling belakang dan lanang pergi meninggalkan saya sendiri. Kesal hati diperlakukan seperti ittu. Apalagi ketika saya melihat lanang berjalan menjauh dari penglihatan. Jadilah saya orang paling belakang dalam pendakian. Iben, Lanang, Yogi dan Rudi sudah berjalan duluan meninggalkan saya.
Karena saya lelah, saya memutuskan untuk duduk terlebih dahulu. Entah apa yang saya pikirkan. Saya masih kesal pula dengan sikap lanang kepada saya.
“vit, kalo mau duluan gapapa” kata iben.
Entah mengapa ketika itu saya juga kesal kepada iben, yang menyuruh saya duluan… sambil menampakkan muka kesal saya bilang ke iben “yaudah kalo lo mau duluan, duluan aja. Gapapa!” kata saya kesal. Kemudian iben yang tadinya sedang istirahat, berdiri dan meninggalkan saya.
Tak lama kemudian, lanang datang kembali.
“kok lanang kesini?” kata saya kesal
“iih, kan mau jemput kamu. Kan tadi aku bilang mau ke puncak dulu naro carrier terus ke bawah bawain carrier kamu sambil nemenin kamu muncak” kata lanang.
Saya diam saja sambil cemberut kepada lanang
“loh, kok kamu malah cemberut sii.. kan aku udah balik lagi” kata lanang mencoba menenangkan.
“lagian lanang ninggalin saya sendiri” kata saya.
“yaa maaf, habis kamu disuruh jalan duluam malah gak mau, malah marah” kata lanang.
“kan saya capek, masa lagi mau istirahat malah disuruh jalan duluan” kata saya.
“yaudah maaf deh tadi ninggalin” kata lanang
kami ngobrol sambil melanjutkan perjalanan menuju puncak.
Akhirnya kami berdua sampai puncak!.
Saat itu kira-kira pukul 12.00 siang. Kami mendirikan tenda.
Ada 2 tenda yang kami bawa dengan kapasitas 6 orang dan 3 orang.
Saya di tenda yang 3 orang. Di dalamnya terdapay saya dan Lanang. Sebenarnya saya agak kesal karena kejadian tadi. Tapi karena gak enak dengan rekan lainnya, maka saya terpaksa tepiskan rasa kesal itu.
Sehabis makan siang kami masuk tenda, capek lalu istirahat kemudian tidur.
Akan tetapi cuaca mendadak berubah, sekitar pukul 3 sore langit mendung tiba-tiba. Dan hujan dengan hebatnya membasahi tenda kami. Hujan yang tak lagi turun secara vertikal, melainkan horizontal. Lurus. Dan sialnya! Tenda sampai kebocoran karena hujan angin yang deras dan lebat. Air tak hanya masuk melalui atap tenda melainkan melalui celah-celah bawah tenda. Tenda kami kebanjiran. Terpaksa kami bangun sambil menyelamatkan peralatan. Seperti SB (Sleeping Bag), baju serta Carrier.
Akan tetapi alam masih baik kepada kami, hujan tidak terjadi lama. Hanya sekitar 1 jam. Sekitar jam 4 sorean langit kembali cerah, saya dan lanang pun menguras tenda. Mengeluarkan air yang menggenangi tenda kami, mengelap yang basah dan kembali merapikan tenda.
Akhirnya malam tiba. Kembali menyiapkan makan malam. Masak. Kali ini kami memasak sarden. Sambil beberapa orang ada yang masak mie rebus.
Waktu makan pun tiba, seusai memasak, kami makan bersama.
Makan malam ditemani bintang-bintang dan lampu-lampu kota garut yang sangat indah. Sayangnya, saat saya hendak mengambil foto, kamera saya tidak cukup bagus untuk mengambil gambar.
Kami putuskan untuk tidur setelah makan malam.
Malam yang indah di tempat yang menawan. Meski dingin tapi ini memang yang saya cari. Menghindar sejenak dari kepadatan, melupakan keruwetan selama di Kota. Dan saya siap menyambut sunrise.
Sekitar pukul 05.30 pagi. Suasana di luar Nampak ricuh. Ramai banyak suara orang. Dan beberapa rekan memanggil kami.
“Nang, vit  sini keluar”
“ayooo.. woyyy mataharinya udah mau keluar” kata salah satu rekan kami.
Akhirnya saya dan lanang memutuskan untuk keluar. Dan benar saja, di luar tenda sudah ramai orang-orang menyambut sunrise. Ramai dan sibuk dengan kameranya.
Sunrise yang benar-benar indah!
Awan yang menggoda bak kapas-kapas bantal yang siap untuk ditiduri. Ah, jadi kangen kesana.
Dan inilah kisah ku di Gunung Cikuray.
Kisah yang penuh dengan pesan. Penuh pengalaman dan memberikan pelajaran terhadap hidup. Ya, saya tak boleh lagi ngambek kepada Lanang saat berada di Gunung. Ya, saya tidak boleh egois sehingga tidak memperdulikan orang lain terutama tim sendiri ketika berada di Gunung. Semua pelajaran kehidupan saya dapat di Gunung untuk kemudian diterapkan di dataran rendah. Di Kota dan dimanapun.