love it

love it
together we can ! yes!

Kamis, November 13, 2014

Pendakian ke Negeri Dongeng, Gunung Bromo


Tentang sebuah mimpi,
Tentang dingi yag berhembus dari sela-sela tenda,
Tentang hujan yang mendadak turun dikala tidur mulai menjelma,
Tentang cinta kepada awan di atas ketinggian,
Tentang cinta kita,
Tentang Gunung,
Dan ini,





Angin gunung yang dingin sore itu. Begitu tak biasa bagiku.
Luka bekas jatuh dari motor pun sudah tak lagi terasa. Aku tau ini tentang sebuah keinginan yang besar. Sejak lama. Dan tak aku duga semua ini aku jalani saat bermula denganmu. Aku juga tak tau, kenapa Tuhan mengirim kamu untuk menemaniku mendaki puncak indah di Indonesia. Memang tidak banyak, hanya beberapa dari banyaknya gunung cantik di Nusantara ini. Hanya saja, aku bahagia.

Banyak pelajaran yang aku dapat saat mendaki, dari banyaknya kenalan yang aku dapatkan, sampai rasa rindu saat kembali ke rumah. Selain itu, banyak pula kekhawatiran orang tua. Mamah terutama. Saat aku mulai bilang aku naik gunung. Dia agaknya sedikit marah. Tapi lama-lama semua itu bisa dimengerti.

Mulanya, aku juga tak mengetahui banyak hal tentang dirimu. Aku juga tak tau jika kamu juga suka akan berpetualang di Alam. Aku juga sebelumnya belum kenal siapa aku, aku yang cinta sekali dengan dingin di puncak gunung, aku yang suka sekali menggigil di malam hari, dan aku yang senang sekali menyapa sesama pendaki saat berada di gunung. Aku juga baru kenal siapa aku, saat bersamamu mendaki Gunung.

Jika dilihat dari daftar mimpiku yang aku tulis beberapa tahun lalu, aku hanya menuliskan satu Gunung itupun bukan gunung untuk didaki, hanya gunung wisata. Gunung Bromo namanya. Letaknya di Jawa Timur, Indonesia. Aku mulai menyukainya saat mulai aku lihat gambar gunung Bromo yang eksotis di salah satu kalender di rumah. Hati semakin gembira dan rasa ingin kesana semakin tinggi saat aku lihat acara di televisi yang mendeskripsikan tentang keindahan sebuah Gunung Bromo. Aku ingin kesana, bahkan harus kesana.

Dua puluh dua Desember dua ribu dua belas.

Satu bulan setelah kita resmi jadian. Satu bulan setelah kita resmi menyatakan kasih sayang, saling suka. Dan satu bulan setelah kita tak lagi menjadi teman. Ajakan itu muncul dari salah satu kami, ditambah lagi seorang teman yang memang ingin jalan-jalan.

Melalui perbincangan panjang, akhirnya kita memutuskan untuk berlibur ke Gunung Bromo, Jawa Timur. Hatiku senang, gembira bukan main kala sebuah mimpi lama akan menjadi nyata dalam waktu dekat. Ya, mimpi yang sederhana tak muluk dan tak menghabiskan biaya yang banyak pula. Bromo, Aku datang.

Lanang Teguh Samudera. Dia adalah Travelmate ku, sekaligus kekasihku.

Satu lagi adalah Urfan Fifaldi, dia adalah teman sekelasku.
Dan, pada bulan Januari di tahun 2013 kami mengunjungimu, Bromo ku tercinta. Gunung gagah yang selalu membuatku terpikat bahkan sampai sekarang . inilah kisahmu.

Gunung Bromo diJanuari 2013

Gunung Bromo dalam keadaan cerah


Kereta Api jurusan Matarmaja segera berangkat pukul 2 siang. Badan kami bertiga masih pegal karna sebelumnya selama 3 hari melakukan perjalana ke Yogyakarta. Menemani teman kami yang ingin berkeliling kota Gudeg tersebut. Wajar saja mereka minta ditemani oleh kami bertiga karna kami hampir sudah mengetahui semua area wisata di Kota yang dikenal dengan kota pelajar tersebut.
Akhirnya kereta berangkat. Kurang lebih pukul 2.15 kereta mulai beranjak dari Stasiun Kereta Api Senen, Jakarta. Here We Go!
Kami melewati waktu di kereta api kurang lebih 20 jam. Waktu yang lama untuk duduk di kereta Ekonomi.
Hal yang paling menarik dan sangat disuka saat berada di Kereta api adalah saat para pedagang menjajakan dagangan mereka. Semua hampir tersedia di kereta api. Seperti layaknya pasar yang berpindah tempat ke gerbong kereta api. Agak lucu bagiku.  Barang dagangan yang dijual beraneka macam, mulai dari makanan sampai binatang peliharaan. Saat itu aku pernah melihat seorang pria paruh baya, hampir kakek-kakek menjual sejenis Tokek tapi badannya agak besar. Aku lupa dia jual dengan harga berapa, hal itu unik sekali. Sebuah pemandanagan yang tak akan ditemui di transportasi manapun di Bis, maupun di Pesawat.
Tapi sekarang, mungkin hal ini sudah tidak akan ditemui lagi, kebijakan pemerintah yang melarang semua pedagang berdagang di dalam kereta api menyebabkan banyaknya orang-orang yang kehilangan pekerjaannya.
Sekitar pukul 10 pagi kereta kami sampai di Stasiun Kota Baru, Malang. 
Lanang langsung mengambil ponsel dan menghubungi temannya. Teman yang baru saja dikenal dari sebuah komunitas pecinta jalan-jalan. Rupanya kami harus menunggu agak lama teman baru kami.
Sembari menunggu, kami berjalan-jalan sebentar. Karna perut kami lapar, akhirnya kami memutuskan untuk membeli makanan soto madiun.
Usai makan, ternyata teman baru kami belum juga sampai. Kami berjalan-jalan sebentar disekitar stasiun. Sampai akhirnya dia muncul. Perkenalan pun dimulai.
“Dav”
“Vita”
“Lanang”
“Urfan”
kami bertigpun berkenalan.
“yaudah, kita motoran aja yah ke Bromonya” Ujar Mas Dav
“oke” Jawab Urfan.
“Udah dapet penyewaan motor kan?” Tanya mas Dav
“Udah. Di jalan ini nih mas, tempatnya tau  gak?” jawab lanang sambil menunjukkan alamat rental motor.
“oh, disini.. tau-tau ini gak jauh kok dari sini. Yaudah siapa yang mau ikut aku buat ambil motornya?” Tanya mas Dav sembari meletakkan ransel.
“aku mas!” jawab semangat Urfan
“yaudah, kalian berdua disini dulu yaa. Aku nitip tas aku. Oiyah itu ada kamera kalo mau liat-liat foto aku pas naik gunung juga boleh.” Ucap mas Dav sambil menstarter Thunder nya.
Akhirnya mereka berdua pergi menuju tempat rental motor. Aku sesekali melihat pemandangan sekitar. Tiba-tiba lanang menunjukkan sesuatu padaku, “nih vit liat deh!”
“wah. Bagus banget yaa” kagum saat aku melihat hasil poto yang ada di kamera mas Dav. Tampak mas Dav tengan duduk di dengan backround awan yang indah. Duga ku itu berada di salah satu gunung di Indonesia.
Semakin banyak gambar yang aku lihat semakin kagum aku pada keindahan alam Indonesia, terutama Gunung.
Tapi, ketika itu aku belum ada kemuan untuk menjadikan mendaki sebagai hobi. Masih terlalu dini aku menjadikan hidupku sebagai orang yang suka mendaki Gunung.
Setelah beberapa menit, akhirnya Urfan dan Mas Dav kembali. Urfan mengendarai motor matik.
“loh, kok matik?” Tanya Lanang
“adanya cuma ini.” Sahut Urfan.
“Yaudah gapapa”
akhirnya setelah packing ulang, bersih-bersih badan. Makan siang, kami berempat berpacu dengan motor.
Urfan berbonceng dengan mas Dav bersama Thunder nya. Sedangkan aku dengan matik dengan supir Lanang.
Jalan yang kami tempuh cukup jauh. Melewati keramaian kota. Dan tiba-tiba hal yang tak diduga datang. Hujan turun ditengah perjalanan kami. Hujan yang deras, dengan massa air yang cukup besar. Instan semua panik dan motorpun menepi.
Cukup lama kami menepi, akhirnya kami memutuskan untuk kembali melaju. Dengan menggunakan jas hujan kami menerjang hujan yang lumayan deas. Selang beberapa waktu dalam jarak yang cukup jauh, hujan mereda. Bahkan Nampak tidak pernah tampak satu tetes pun air yang turun di tempat yg sekarang kami tempati.
Usai melipat jas hujan dan ponco, kam melanjutkan perjalanan.
Jalur yang kami lalui adalah jalur wonokriti.
“mas nanti ini tembusnya dimana?” Tanya salah seorang di antara kami.
“ndak tau. Aku juga belum pernah lewat sini. Hahahaha” jawab Mas Dav dengan santai.
Jalan yang kami lalui mulanya cukup bagus. Halus dan tidak berlubang. Namun hal itu tidak bertahan lama, sampai pada sebuah desa yang aku sendiri lupa namanya. Jalan berubah menjadi penuh lubang, sesekali menanjak dan saat itu hujan deras. Lengkap sudah perjalanan kami.
Banyak doa yang aku panjatkan saat itu, saat jalanan menaik dengan terjal yang begitu parah, ditambah hujan yang cukup deras sehingga membuat badanku sedikit menggigil.
Sampai kami menemukan sebuah Masjid, dan kami memutuskan untuk istirahat sejenak. Setelah beberapa lama, akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Hujan yang turun lumayan sudah mereda, hanya sedikit gerimis sore itu.
Baru saja melanjutkan perjalanan, jalanan lumayan bersahabat. Tiba-tiba motor kami harus dihadapkan dengan sebuah tanjakan tajam yang curam. Kemiringan tanjakan sekitar 70 derajat. Dan itu mengharuskan saya turun dari motor. Benar-benar petualangan.
Setelah melewati punggungan Gunung arjuna, akhirnya kami terbebas dari tanjakan terjal yang berbatu. Pemandangan berubah menjadi barisan rumah-rumah penginapan yang berwarna-warni. Di kanan kami berjajar ladang yang hijau dan di kiri kami tergambar kabut putih yang indah.
Jalanan yang sepi tidak menyurutkan kami untuk berhati-hati. Maklum saja, saat itu kabut sedang lumayan tebal. Ditambah lagi belokan yang lumayan tajam.
Motor kami ambruk, jatuh!
“aduh!” ujarku.
Lututku mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Tak berbeda keadaannya dengan lutut urfan.
Bibir ku juga berdarah akibat benturan dengan helm yang menyentuh aspal, begitu pula dengan lanang. Dan di antara kami berempat yang tidak ada luka hanya Mas Dav.
Motor kami jatuh tersungkur hitamnya aspal.
Untunglah tidak ada luka yang parah, hanya luka biasa.
Setelah membereskan motor yang terjatuh, helm yang rusak lumayan parah akhirnya kami melanjutkan perjalanan.
Tetapi sebelumnya kami beranjak, tiba-tiba ada warga yang menanyakan kami kenapa, bahkan mereka berniat menolong kami. Serta memberitahu kami untuk selalu berhati-hati.
“kemarin disini ada yang juklek loh mas” ujar ibu-ibu yang berniat menolong kami.  
“iyaa bu, kami pamit dulu yaa bu” ujar Urfan
“Yaudah ya mas, hati-hati di jalan”
“Ya bu”
motor-motor kami pun melaju.
Masih perih luka di bibir akibat bersentuhan langsung dengan aspal. Helm yang aku sudah rusak semakin jelek ketika jatuh.
Setelah beberapa lama, akhirnya kami sampai di penanjalan 1, view point Gunung Bromo.
Bahagia langsung menghinggapi pikiranku. Rasa kagum akan keindahan alam menyatu dengan dingin yang aku rasa.
Bagi Mas Dav yang memang domisili di Jawa Timur, foto dengan backround Bromo sudah biasa. Tapi bagi kami, ini hal yang tak boleh disia-siakan.
Malam sudah mulai menyapa, senja sudah datang. Kami berempat mendirikan sebuah tenda. Lanang sebenarnya membawa tenda, akan tetapi karna kapasitasnya yang kecil terpaksa tenda yang dibawa lanang dijadikan alas dan kemi mendirikan tenda yg dibawa oleh Mas Dav.
Tidak mudah mendirikan tenda dengan alas batako. Tenda yang seharusnya digunakan untuk alas tanah, terasa aneh ketika alas yang tersedia hanyalah batako. Dan terpaksa setiap ujung dari tenda yang kami dirikan harus kami pasak dengan batu yang lumayan berat. 
proses pendirian tenda di atas Paving

Malam datang, matahari yang malu sudah berubah cahayanya dengan terangnya bulan.
Beruntung, saat itu bulan sedang terang-terangnya. Bulatnya penuh, ditambah lagi disekeliling langit Nampak bintang-bintang yang indah dan banyak. Angin dingin pun mulai berbisik dari sela-sela pasir yang tersapu angin Bromo.
Agak sulit bagi kami menyalakan tungku api di tengah kerumunan angin. Setelah menelan waktu cukup lama, akhirnya Mas Dav menyerah dan meminta bantuan ke rumah tetangga. Setelah beberapa menit Mas Dav kembali dengan tungku dengan keadaan bara menyala.
“Nang, temenin pipis yuk” Tanya ku pada lanang.
“yaudah.”
Akhirnya aku beranikan diri keluar dari tenda setelah bermain kartu. 
keadaan setelah main kartu, BELEPOTAN !
Seketika tubuhku merasa sangat dingin. Sedikit menggigil. Bahkan air yang aku gunakanpun begitu dingin. Yah. Inilah suasana Gunung.
Usai buang air kecil, aku dan lanang memandang kagum pada keindahan Bromo.
Kami berdua melihat ke arah Gunung Bromo berada, sedikit tertutup kabut putih, di sertai dengan suara pasir yang menyerupai air terjun. Kami menyebutnya pasir berbisik.
Ketika aku sedang memandang kagum ke Arah Gunung Bromo, tiba-tiba tangan melingkar nya masuk dari sela-sela pinggangku. 
suasana menanti sunrise Bromo

Ya, lanang memelukku dari belakang. Pelukan pertama di tempat yang begitu Indah, Gunung Bromo. Aku suka moment ini.
“tuh, Bromo nya sudah ada. Beneran”
“Iyaa, gak nyangka bisa kesini”
malam itu saat udara sedang dingin-dinginnya.
Malam itu, saat angin berbisik menegur bahwa inilah Bromo.
Malam itu, saat bulan terang beradu keindahan dengan Bintang yang bertaburan.
Malam itu, Aku cinta kamu Gunung Bromoku.
Singkat cerita aku suka Bromo, suka dengan Sunrise yang saat itu aku lihat bersamanya. Dengan deburan angin yang indah menyapa pagi hari, dengan pelukan pertama dari seorang kekasih. Dengan keindahan yang dibalut dengan cinta. Iya, aku suka kmai. Gunung Bromo.

lebih banyak tentang cerita Bromo, 

narsis sebelum packing tenda
team Pendaki abal-abal
 


















 
puncak Bromo, Gunung pertama bagi kami.

Love



Tidak ada komentar:

Posting Komentar